Powered By Blogger

Minggu, 28 Agustus 2011

Ada Gunung Api Raksasa di Bawah Laut Sulawesi

Gunung ini memiliki ketinggian jika diukur dari dasar lebih dari 3.000 meter.
surya.co.id - Ekspedisi bersama Indonesia-Amerika Serikat di lautan dalam di perairan Sangihe, Sulawesi Utara, berhasil memetakan sebuah gunung bawah laut. Penelitian dengan sonar multicahaya kapal penelitian Okeanos milik NOAA ini menemukan gunung ini memiliki ketinggian sampai 10 ribu kaki atau lebih dari 3.000 meter.

Kamera yang dikendalikan dari jarak jauh oleh kapal tersebut mengambil gambar dengan definisi tinggi (high definition) di kawasan Kawio Barat yang mengacu pada wilayah perairan barat Kepulauan Kawio, Kabupaten Sangihe.

Para ilmuwan memilih Kawio Barat sebagai target pertama untuk ekspedisi ini berdasarkan informasi dan data satelit yang dikumpulkan oleh sebuah tim gabungan Indonesia-Australia pada 2004.

Unsur-unsur bawah laut yang berlimpah menjadi target awal yang ideal untuk menyesuaikan perangkat dan teknologi di dalam kapal yang digunakan dalam pelayaran perdana ini. Para ilmuwan ekspedisi ini berharap peta dan video yang dihasilkan akan membuka jalan bagi para peneliti lain untuk menindaklanjuti temuan awal yang mereka peroleh.

“Ini adalah sebuah gunung berapi yang besar dan lebih tinggi daripada semua gunung di Indonesia kecuali tiga atau empat lainnya, dan menjulang lebih dari sepuluh ribu kaki dari dasar laut di dalam perairan dan terletak di kedalaman lebih dari 18 ribu kaki,” kata Jim Holden, Ketua Ilmuwan AS untuk misi awal ekspedisi bersama ini, dan seorang ahli mikrobiologi dari University of Massachusetts di Amherst, yang turut serta dalam ekspedisi dari Exploration Command Center di Jakarta, Indonesia.

Untuk dibandingkan, Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Namun ketinggian ini diukur berdasarkan level permukaan laut, bukan dari dasar lembah dari gunung. Sementara ketinggian gunung bawah laut yang ditemukan di Sangihe ini diukur dari lembahnya.

Koneksi Jakarta-Seattle

Banyak ilmuwan yang bekerja dari wilayah pesisir dengan menggunakan model eksplorasi lautan dengan siaran video langsung jarak jauh (telepresence). Holden dan para ilmuwan lainnya di Exploration Command Centers di Jakarta dan Seattle terhubung dengan Okeanos Explorer secara langsung melalui satelit dan jalur internet berkecepatan tinggi, dan dapat terhubung dengan awak kapal untuk menuntun jalannya ekspedisi.

Para ilmuwan Indonesia dan AS yakin bahwa dengan menyelidiki lautan yang belum pernah tereksplorasi sebelumnya maka akan banyak fenomena baru yang diperoleh dan informasi yang didapat untuk menambah pemahaman kita tentang ekosistem dan pengasaman laut serta dampak perubahan iklim.

“Keprihatinan yang berkaitan dengan laut, termasuk keamanan pangan dan perlindungan ekosistem laut yang mendukung perikanan, berdampak pada banyak negara termasuk Indonesia – sebuah negara yang terdiri dari 17.000 kepulauan,” kata Sugiarta Wirasantosa, ilmuwan utama Indonesia untuk ekspedisi bersama dan ketua tim periset Indonesia pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan. “Untuk memahami dan mengelola hal-hal seperti itu, kita harus lebih dulu melakukan eksplorasi. Itulah alasan mengapa ekspedisi ini begitu penting,” ujarnya dalam rilis yang diterima VIVAnews, 12 Juli 2010.

Petakan Dasar Laut Indonesia

Sejauh ini, Okeanos Explorer telah memetakan 2.400 mil persegi dasar laut di Indonesia, wilayah yang luasnya setara dengan luas Delaware. Pada pertengahan Juli, kapal riset dan perikanan milik Indonesia Baruna Jaya IV akan memetakan lebih banyak dasar laut dan menempatkan peralatan di kepulauan Kawio sebelum kedua kapal bertemu di Pelabuhan Bitung. Mereka akan dikerahkan kembali pada 21 Juli untuk terus mengeksplorasi lebih banyak lagi lautan yang belum terjamah dekat gugus kepulauan Sangihe dan Talaud. Ekspedisi tersebut akan rampung pada 14 Agustus.

“Ini sangat mirip seperti memecahkan teka-teki,” kata Holden. “Pertama-tama kami memetakan dasar laut, dan jika kami melihat sesuatu yang menarik, ilmuwan yang berada di darat dan staf yang berada di kapal menghentikan kapal untuk meletakkan lebih banyak alat sensor dan sistem di air,” katanya.

Investigasi pendahuluan ini mencakup penempatan robot bawah air yang dinamai ROV, atau remotely-operated vehicle, di mana seorang pilot yang berada di kapal mengendalikan ROV yang berada jauh di bawah laut. ROV tersebut merupakan sebuah sistem berbadan dua yang dapat menyelam hingga ke kedalaman 13.000 kaki, dan apabila lampu dan kamera video berdefinisi tinggi di kedua instrumen dinyalakan, akan dapat dilihat langsung oleh ilmuwan di darat.

Misi NOAA adalah untuk memahami dan memprediksi perubahan-perubahan di lingkungan di muka bumi, mulai dari dasar laut hingga permukaan matahari, serta melindungi dan mengelola sumber daya pesisir dan laut. VIVAnews

Sumber :
http://www.surya.co.id/2010/07/13/ada-gunung-api-raksasa-di-bawah-laut-sulawesi.html
13 Juli 2010

0 komentar:

Poskan Komentar


Beberapa Foto Barang milik Raja Taboekan Sangihe

Foto-foto berikut yang berhubungan dengan Raja Taboekan – Sangihe merupakan koleksi dari Olden Kansil.  Kualitas foto tidak terlalu baik karena hanya diambil menggunakan kamera handset, tetapi nilai historis yang terpapar merupakan sebuah usaha dokumentasi yang patut diberi apresiasi.

1.  David Jonathan Papukule dan Boki, Raja Taboekan XIV
1
2.  William Kahendake Sarapil, dan Boki Kansil, Raja Taboekan IV, Bupati Pertama Kab. Sangihe dan Talaud
2

3.  Paporong milik Papukule Sarapil, Bintang Bulaeng dan Medali Salaka
3
4.  Bintang Bulaeng dan Medali Salaka, Penghargaan dari Kerajaan Belanda atas jasa  Papukule Sarapil dalam mengembalikan Pulau Miangas dari pendudukan armada Amerika, dan jasa beliau dalam menyelamatkan penduduk Mala, Kalasege, dari ancaman Lahar Gunung Api Awu 1892.
4
5. Baniang : Pakaian Adat Papukule yang terbuat dari serabut pisang
Koffo (hote),  Paporong duka (topi, warna biru tua)
5

6 tanggapan untuk posting ini.

  1. Posted by DP Tick gRMK on 7 Agustus 2011 at 6:42 pm
    Dear all;
    Be very carefull with these things;they are the link to the past and can help stimulte the young people to get interested in the wosdom of the forefathers.
    Salam hormat:
    DP Tick/Holland
  2. PS:
    Raja Papukele had as familyname also Sarapil.I once had seen a little book about only the kerajaan Tabukan.Very sharp pictures there.The copy of the book plus supersharp scans of the pictures (18) I gave to the amateur historian Mr. Josias Tatontos.Maybe he wants to give some scans to the raja palace in Enemawira.What they now do with the palace?I wonder,who is now the chief representative,who that could be of the raja dynasty.Why Pak Olden Kansil could have these pictures.I like these pictures.So full of atmosphere.The pictures I gave to Pak Tatontos contians a very sharp picture of Raja Willem sarapil,his succesor*then jogugu)and all the adat chiefs,etc. Maybe 150 people.I printed it on a paper of ca. 1 meter.All faces you can see very sharp.Maybe all nice in a new palacemuseum in Tabukan.I think the sangir islands have a big potensi to show itś royal culture to his own people and the tourists. I know in Sangir-Talaud you have old palaces,ceremonies,old pictures of rajas(I can deliver more!),royal graves,even on Talaud I saw on pictures very impressive graves.I hope,that the people there will find the inspiration to protect and show itś royal and historical culture alltogether.Sangir-Talaud is a special people.Succes.
  3. PS2:Would ne nice to have the article in English,but can not trabnslate it via Google and send it to my facebook.Thank you.I very much like it you send this link.I see,that now in Siau the royals revice their history.Maybe in Tabukan and the other areas they also want to do a similar thing.Better scan the old pictures and to protect the old pictures.I like the old pictures so full of atmosphere.Thank you for all.
  4. There’s lots of “Barang Peninggalan” belong to kingdom of Taboekan, especially in Ruled by”David Jonathan “PAPUKULE” Sarapil. But there were powered from Bupati-Bupati sangihe who was took it from Palace of Taboekan in Enemawira. There are : “Stick of power throne King of taboekan, Lantaka/Cannon, etc…
    It was taken by Bupati tindas ruled as Bupati in Sangihe. The reasons why he took it, you know..,: “I want to borrow it for a while…” he said.
    But u know it never come back til now yet. But thanks GOD some body keep it safety even though there was issues that the person is Crazy already…,
    The Rumours is WRONG! coz it keep safety until the generation of third could see it and Hold it with their own hands…..
    The point is “Bintang Bulaeng and Madalie Salaka” not just A Myth but it proven in sights of Sarapil Generation of third….
  5. Dear Sir; God all things are now back in hands of Sarapil dynasty.I hope palace in good condition.I hope easy to have prints of Tabukan pictures I gave to J Tatontos.I hope,that also easy for Sarapil dynasty to make a royal resurrection like the Siau dynasty kansil did.Raja Muda John FE Suoth alerady went to royal conference in Banding.In november new royal meeting.Maybe easy for Sarapil dynasty to send also perwakilan there,in pakaian adat kofo. Tank you for all. Salam hormat: DP Tick
  6. Posted by olden kansil on 12 Agustus 2011 at 5:12 am
    mr.Donald Tick:
    Photo2 ini saya ambil tatkala liburan (seminggu yang lalu) ke Enemawira. Rumah kami merupakan sisa dari pembagian Keluarga Sarapil yang masih ada (bekas halaman Istana Raja Taboekan). Rumah Raja nya sendiri sudah “dirobohkan” sejak tahun 1975, dan saat ini tinggal puing Fondasinya saja..Nenek (oma) saya Sophie Carolline Sarapil, merupakan satu-satunya putri David Papukle Sarapil yang menikah. Menikah dengan Oldenbarneveld Balandatu Dulaq Kansil, yang melahirkan 3 putra-putri; Ghema Ponto-Kansil (ibunya Soleman Ponto), alm. Janek Xaverius Hizkia Kansil (ayah saya), dan alm.Jerry Kansil. Beliau sendiri merupakan anak ke 4 (twin) dari David Papukule Sarapil, atau adik dari Willem Kahendake Sarapil (Raja Taboekan ke-XV).
    Mudah2n pada generasi kami bisa mempertahankan apa yang tersisa dari Kerajaan Taboekan-Sangihe. Tidak sebagai upaya mempertahankan feodalisme atau sebagainya, namun lebih daripada menegaskan kesejarahan dan nilai-nilai positif yng ada di Nusa Utara.

Tinggalkan Balasan

Gravatar
WordPress.com Logo
Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.
Twitter picture
You are commenting using your Twitter account. (Keluar)
Facebook photo
You are commenting using your Facebook account. (Keluar)
Connecting to %s

Cerita Rakyat tentang sejarah Sangihe-Talaude

Menurut cerita rakyat, bumi Tampunganglawo yang kini disebut pulau Sangihe Besar, ratusan abad yang lalu, daratannya bersambung dengan pulau-pulau kecil mulai dari p. Lipaeng, p. Kawaluso, p. Matutuang, p. Memanu, p. Komboleng, p. Kawio, p. Marore, p. Marulung (p. Balut)  dan ujung paling Utara Barat Laut, p. Sahenganeng (p. Saranggani).
Pemukiman Suku Bantik dulu yang bernama Kaluwulang berada di bumi Tampunganglawo ini, yaitu diantara napong Ehise (beting-putih) dengan p. Marulung. Tapi karena daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, maka Suku Bantik untuk sementara waktu mengungsi ke daratan Talaud, lalu berpindah tempat dan mendiami pesisir Barat sepanjang pantai Sulawesi Utara, lainnya ke Mindanao Selatan, sedang yang kondisi tubuhnya lemah, berdiam terus di Talaud.


Cerita rakyat ini sama dengan analisa seorang ahli gunung api, Ir. Hadikoesoemo  yang pada tahun 1949 memeriksa keadaan gunung Awu Tahuna-Kolongan. Beliau sementara mendaki ke gunung, lalu menunjuk ke arah Utara dan berkata, bahwa pulau-pulau yang berjejer kebawah itu (maksudnya p. Lipaeng dan seterusnya) zaman dulu kala adalah puncak-puncak gunung tinggi, yang daratannya bersambungan dengan pulau Sangir Besar ini.  Ditambahkannya, bahwa bagian yang terbesar daratan, sudah tenggelam ke dasar laut, akibat dari letusan gunung api dahsyat yang terjadi beberapa kali.
Setelah daratan Tampunganglawo bagian Utara Barat Laut tenggelam, di bagian sebelah Timur dari daratan yang tenggelam itu, dari dalam lautan muncul sebuah daratan baru yang disebut Porodisa.
Secara ilmiah, proses ini dapat dibenarkan menurut teori seorang Ahli Tubuh Bumi, Bpk. Wisaksono Wirjodihardjo, di dalam bukunya yang berjudul Tubuh Bumi Indonesia, dia mengumpamakan bahwa bumi ini merupakan tanah gambut dan bila diinjak di tengah-tengahnya, maka bagian yang kena kaki, permukaan tanah itu akan turun, sedang tanah di bagian luar dari kaki itupun meninggi, namun volume tanah tidak akan berkurang.
Jadi, jika menurut teori ini, maka besarnya daratan Tampunganglawo yang tenggelam itu, sama besarnya/luasnya dengan daratan Porodisa atau pulau Karakelang Talaud.

wisata dan budaya Kepulauan Sangihe

keindahan budaya sangihe


TULUDE atau MENULUDE berasal dari kata :Suhude yang berarti tolak Tulude yang berarti hentar atau lepaskan Menulude berarti menghentar atau melepaskan Maksud Acara Adat MENULUDE ialah Memuja / Memuji DUATA / RUATA, Mengucap syukur atas perlindungan Genggonalangi, Memohon doa agar kehidupan mendatang itu dilindungi oleh Genggonalangi.

Menulude adalah salah satu upacara adat Sangihe yang dilaksanakan pada setiap akhir bulan januari (31 Januari yang sekaligus merupakan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe) untuk mensyukuri berkat Tuhan pada tahun lampau dan memohon berkat serta pengampunan dosa sebagai bekal hidup pada tahun baru. Dalam upacara ini perlu hadir sesepuh adat atau Pemerintah bersama seluruh rakyat. Adapun tata upacara menulude dimaksud adalah :

Upacara penjemputan para sesepuh adat (Pemerintah) Mendangeng sake (Sastra Daerah bermakna mempersilahkan tamu naik rumah adat) Menahulending Benua dan Pemerintah (Doa restu dan mohonpengampunan) Sasalamate (Syukuran dan pujian) Memoto Tamo (Pemotongan Kue Adat) Pesta rakyat dengan menampilankan atraksi kesenian daerah.




Musik Oli
Musik Oli merupakan musik tradisional Sangihe dan saat ini masih dimainkan oleh masyarakat di Desa Manumpitaeng Kecamatan Manganitu. Musik ini sering dipakai untuk mengiringi Tari Lide.
Musik Oli terdiri dari 5 jenis alat musik, yaitu Sasaheng, Oli, Arababu, dan Bandi (foto : Yayasan Sampiri)



Musik Bambu melulu merupakan kesenian yang sudah merakyat dan berkembang disemua Kecamatan dan menjadi sajian yang menarik untuk dinikmati oleh wisatawan. Adapun alat-alatnya terdiri dari : Suling (Suling kecil,sedang dan besar) Korno (korno sol-la, mi-fa, si-do) Bambu tengah (mi-fa, so-la) Trambone (so-la, mi-fa) Saksafon Trompet Bas Tambur Musik ini dapat membawakan semua lagu dengan segala irama.



Tari Gunde umunya diadakan pada saat upacara penyembahan dan menolakkan bala yang dikenal dengan menahulending. Sehingga tari Gundeberfungsi sebagai tarian pemujaan. Penarinya terdiri dari sekelompok orang yang berjumlah 13 orang termasuk seorang pemimpin tari (pengataseng) dengan diiringi oleh bunyi irama tabuhan tagonggong dengan menggunakan beberapa jenis irama lagu(lagung) yaitu lagung bawine, lagung balang. Lagung sasahola, lagung kakumbaede.

Tari gunde diiringi oleh Beberapa orang yang menabuh Tagonggong serta lagu sasambo dengan menggunakan kain asli kofo yang dibuat dari serat pisang.

Foto : Yayasan Sampiri



Tari Alabadiri adalah tarian yang diciptakan oleh Raja DALERO seorang Raja Tabukan saudara dari PANDIALANG pada abad ke 18. Pada saat itu PANDIALANG menjadi seorang Jogugu di Sahabe, dan ia mencipakan Tari Ransang Sahabe artinya Tarian dari Sahabe. Pada mulanya para penarinya adalah para pengawalnya sendiri sehinggah tari ini adalah tari pengawal.
Tari ini mempunyai 8 (delapan) gerakan tari yaitu :
Gerakan kulubalang melambangkan kerukunan dan kerja sama rakyat dan pemerintah.
Gerakan tokting melambangkan bahwa segala peraturan dapat ditaati dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Gerakan cincin melambangkan tanda peringatan bahwa para pemimpin harus melaksanakan tugas kewajiban dengan baik.
Gerakan pisau melambangkan rakyat bersumpah bela nusa dan bangsa, serta memberi peringatan pada pemimpin yang tidak jujur.
Gerakan kaliau di telinga melambangkan bahwa segala perintah selalu didengar dan dilaksanakan
Gerakan kaliau di lutut melambangkan bahwa Pemerintah dicintai rakyat.
Gerakan Menari melambangkan kegembiraan masyarakat atas keberhasilan yang dicapai .
Gerakan mengaemba melambangkan sukacita rakyat dengan adanya pemerintah.


Tari Salo adalah Tarian yang menggambarkan kekesatriaan kepahlawanan serta kejujuran, demi keadilan menyerahlah tubuh dan jiwa sampai titik darah yang terakhir setia membela Pemerintah, Bangsa dan Negara. Tarian ini sering ditarikan oleh masyarakat di Desa Salurang.

wisata dan budaya Kepulauan Sangihe

asal usul


Sangihe berasal dari kata Sang dan Ihe. Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki luas mencapai 11.863,58 km2 terdiri dari Lautan 11.126,61 km2 dan Daratan 736,97 km2. Ibukota berkedudukan di Tahuna secara keseluruhan jumlah pulau yang ada di kepulauan ini berjumlah 105 pulau dengan rincian ; 79 pulau yang tidak berpenghuni dan 26 pulau berpenghuni.
Secara geografis wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak antara 2° 4’ 13” – 4° 44’ 22” LU dan 125° 9' 28” - 125° 56' 57” BT dan posisinya terletak di antara Kab. Kepl. SITARO dengan Pulau Mindanao (Republik Filipina).


Pada Tahun 2002 Kabupaten Kepulauan Sangihe dimekarkan (pada saat itu masih Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud) menjadi 2 Kabupaten berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002, yaitu Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud. Pemekaran kembali dilakukan di Kabupaten Induk (Kabupaten Sangihe) menjadi Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO) pada Tahun 2007 sesuai Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2007 tanggal 2 januari 2007 dan peresmiannya telah dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2007 di Ruang Mapaluse Kantor Gubernur Sulawesi Utara sekaligus dengan Pelantikan PPS Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Drs. Idrus Mokodompit.


Sebagai daerah otonom, ada 4 (empat) karakteristik signifikan yang membedakan Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan Kabupaten / Kota lain dalam cakupan Propinsi Sulawesi Utara bahkan lingkup Nasional yaitu :

1). Daerah Kepulauan
Wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe terdiri dari 105 Pulau, dengan rincian dimana 26 buah Pulau berpenghuni dan 79 buah Pulau tidak berpenghuni, dengan luas wilayah 11.863,58 km2. Kabupaten Kepulauan Sangihe terdiri dari 14 Kecamatan, 125 Kampung dan 22 Kelurahan, dimana wilayahnya sebagian besar terdiri dari pegunungan dan tanah berbukit yang dikelilingi oleh lautan.
Pulau-pulau letaknya menyebar dengan jarak relatif berjauhan, namun tetap merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan Kabupaten Kepulauan Sangihe sehingga perlu dikembangkan, dibina, dipelihara dan dipertahankan sebagai aset nasional.

2). Daerah Perbatasan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 77 Tahun 1957 tentang Persetujuan Mengenai Warga Negara Yang Secara Tidak Sah di Daerah Republik Indonesia dan Republik Philipina.
Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak diantara 02°04'13" sampai 04°44'22" Lintang Utara dan 125°9'28" sampai 125°56'57" Bujur Timur. Batas-batas Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah sebagai berikut

Sebelah Utara : Negara Philipina
Sebelah Timur : Kabupaten Talaud dan Laut Maluku
Sebelah Selatan : Kabupaten Siau Tagulandang Biaro
Sebelah Barat : Laut Sulawesi

3). Daerah Bencana
Kabupaten Kepulauan Sangihe termasuk daerah rawan bencana alam. Di daerah ini hampir setiap tahun terutama pada Bulan Desember sampai Maret dilanda bencana alam seperti banjir, tanah longsor, abrasi dan letusan gunung berapi, hal dimana dapat diuraikan sebagai berikut : Iklim pada bulan Desember sampai Maret bercurah hujan maksimum dibarengi angin kencang sehingga sering mengakibatkan banjir maksimum dan gelombang laut maksimum. Iklim di daerah ini dipengaruhi oleh angin muson, musim kemarau (juni – juli dan Oktober – Nopember). Type iklim di daerah ini menurut Schmit dan ferguson adalah type A (Iklim Basah).
Daerah ini memiliki gunung api yang masih aktif yakni satu berada dibawah laut yaitu terletak dekat Pulau Mahengetang, sedangkan yang lainnya yaitu Gunung Awu di Pulau Sangihe.
Kondisi topografi daerah ini terutama di Pulau Sangihe Besar umumnya berbukit-bukit termasuk disekitar pemukiman penduduk, dibarengi dengan kondisi tanah yang sangat labil dan mudah longsor. Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu bantuan induk vulkanis, sedangkan keadaan tanah jenis vulkanis, non vulkanis dan mengandung asam fosfor, calcium, kalium dan magnesium

4). Daerah Terbelakang
Sulitnya menjangkau Kepulauan Sangihe dari Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti kota-kota di Pulau Jawa, Kota Makasar, Kota Manado dan Kota Bitung, mengindikasikan bahwa Kabupaten ini secara fisik masih terisolir sehingga dapat digolongkan sebagai daerah terpencil dengan aksesibilitas sarana dan prasarana yang belum memadai.

Jumat, 01 April 2011

Teknik penulisan naskah berita radio

mic2 Meskipun merupakan media audio, naskah dan berita radio tidak lepas dari tulis menulis. Hanya saja teknik dan bentuk tulisannya sangat berbeda dengan pembuatan naskah berita media cetak.
Karena radio mengandalkan telinga pendengar yang kemampuannya terbatas, maka tulisan yang disampaikan harus singkat namun jelas. Dalam teori penulisan berita radio, disebut KISS – Keep It Short and Simple. Agar tidak kaku dan enak didengar, untuk menulis naskah berita radio harus menggunakan bahasa tutur atau bahasa percakapan.
Hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam menulis naskah dan berita radio adalah:

  • jangan menggunakan kalimat majemuk
  • jangan menggunakan kata-kata negatif
  • jangan menggunakan kalimat pasif
  • jangan terlalu banyak menggunakan angka-angka apalagi angka-angka rumit. jika terpaksa, harus disederhanakan dengan menggunakan kata ‘sekitar, berkisar, antara, kurang lebih’ dan lain sebagainya
  • jangan terlalu banyak menggunakan singkatan
  • jangan terlalu banyak memakai istilah asing
  • untuk memudahkan penyiar / newscaster, tulis nama, angka atau istilah dalam bahasa asing sesuai cara bacanya. Misalnya: 270 ditulis duaratus tujuhpuluh. Writer ditulis wraiter, dll
  • biasanya pangkat/titel/gelar tidak perlu digunakan, kecuali jika memang terkait erat dengan isi berita
  • ingat, satu berita satu cerita, satu kalimat satu ide
  • biasakan membuat lead atau kepala berita yang bisa menarik perhatian pendengar.
  • durasi berita jangan terlalu panjang
Be the first to like this post.

14 Tanggapan ke “Teknik penulisan naskah berita radio”


  1. Juli 30, 2008 pukul 9:52 pm
    wahhhhhhhhhhhhh
    makasih infonyaaa jgn kapok klo ada info terbaru tuk slalu bagi – bagi yaaaaa
  2. 3 jingga
    Januari 20, 2009 pukul 9:31 am
    terima kasih,..pas lagi butuh buat belajar adik-adik sma yang lagi demen jurnalistik radio
  3. 4 yesorno2009
    April 13, 2009 pukul 3:17 pm
    helpful ;-)
  4. Oktober 21, 2009 pukul 1:34 am
    berapa durasi pembuatan berita yang ideal untuk radio.
  5. 7 oka
    Januari 19, 2010 pukul 11:13 am
    makasih masukan nya,,,,
    kk ad contoh naskah yg ngebahas mslh pergaulan bebas ank muda g???
    thx sbelumnya
  6. 8 iriana indrawati
    Maret 15, 2010 pukul 3:12 pm
    thank’s artikelnya.. buat tambahan referensi sy..simple dan sgt jelas,kita yang “org radio asli” tdk bgitu concern sama jurnalistik,jadi lebih gampang meng’aplikasi.
  7. 9 julia
    April 7, 2010 pukul 12:01 pm
    thanx bged dech buat infonya…..
    aku siswi smk jurusan broadcasting…
    ini bisa jd acuan buat bikin script yang lebih berkualitas…
    ga cuma di blitar,tapi buat indonesia tercinta…
    thanx…
  8. Mei 7, 2010 pukul 10:07 am
    Wah,….infonya sangat berguna neeh trims ya….kami masih menunggu artikel yang menarik lainnya.
  9. 11 love_radio_clinic
    Mei 16, 2010 pukul 5:27 pm
    tengss banget infonya…
    bwt inspirasi tugas skul gw ttg nyiarin radio
    i love radioclinic.com
  10. 12 widayekti
    Mei 26, 2010 pukul 8:52 pm
    matur nuwun atas infonya.sangat mendukung pekerjaan saya.pokoke makasih banyak
  11. 13 Ego dyenis
    Juli 20, 2010 pukul 10:31 pm
    Maksih banget nihhh.
  12. November 5, 2010 pukul 8:01 pm
    sangat bermanfaat bagi saya, saya akan mencobannya .
    terima kasih untuk orang yang telah baik untuk menuliskan ini.
  13. 15 Riza
    Maret 31, 2011 pukul 1:56 pm
    terima kasih untuk tulisan anda. ini sangat membantu saya yang berprofesi sebagai seorang penulis naskah radio. Gbu
    Komentar Anda sedang menunggu moderasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *
*
Anda dapat menambahkan HTML serta atribut-atribut berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



B r o a d c a s t o l o g y

M y F a c e b o o k

M y T w i t t s

Flickr Photos

market

incomplete

Gren Garden

Borobudur

parkeerplaats

More Photos
Follow radioclinic on Twitter

JANGAN ASAL COPY - PASTE



Berbagai karya di blog, boleh-boleh saja dikutip atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan lainnya. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemiliknya, atau paling tidak menyebutkan sumbernya: RadioClinic dot com. Terimakasih.

The copyright of the articles in this blog is owned by Alex Santosa. Permission to republish in print or online must be granted by the author in writing.

Creative Commons License
Hak cipta blog ini dilindungi oleh Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 United States License.

Add to Technorati Favorites

Join Radioku Community at MyBloglog!

B e z o e k e r s


tracker

S t a t

  • 275,630 hits

R a d i o p i n i


Media apa yang menjadi sumber informasi anda?
Quantcast

A r c h i v e s

PASFM – Blackberry

Untuk mendengarkan siaran PASFM langsung di Blackberry, silahkan klik link Nobex Radio di bawah ini:
Nobex Radio Companion

T r a c k e r