Minggu, 28 Agustus 2011

wisata dan budaya Kepulauan Sangihe

keindahan budaya sangihe


TULUDE atau MENULUDE berasal dari kata :Suhude yang berarti tolak Tulude yang berarti hentar atau lepaskan Menulude berarti menghentar atau melepaskan Maksud Acara Adat MENULUDE ialah Memuja / Memuji DUATA / RUATA, Mengucap syukur atas perlindungan Genggonalangi, Memohon doa agar kehidupan mendatang itu dilindungi oleh Genggonalangi.

Menulude adalah salah satu upacara adat Sangihe yang dilaksanakan pada setiap akhir bulan januari (31 Januari yang sekaligus merupakan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe) untuk mensyukuri berkat Tuhan pada tahun lampau dan memohon berkat serta pengampunan dosa sebagai bekal hidup pada tahun baru. Dalam upacara ini perlu hadir sesepuh adat atau Pemerintah bersama seluruh rakyat. Adapun tata upacara menulude dimaksud adalah :

Upacara penjemputan para sesepuh adat (Pemerintah) Mendangeng sake (Sastra Daerah bermakna mempersilahkan tamu naik rumah adat) Menahulending Benua dan Pemerintah (Doa restu dan mohonpengampunan) Sasalamate (Syukuran dan pujian) Memoto Tamo (Pemotongan Kue Adat) Pesta rakyat dengan menampilankan atraksi kesenian daerah.




Musik Oli
Musik Oli merupakan musik tradisional Sangihe dan saat ini masih dimainkan oleh masyarakat di Desa Manumpitaeng Kecamatan Manganitu. Musik ini sering dipakai untuk mengiringi Tari Lide.
Musik Oli terdiri dari 5 jenis alat musik, yaitu Sasaheng, Oli, Arababu, dan Bandi (foto : Yayasan Sampiri)



Musik Bambu melulu merupakan kesenian yang sudah merakyat dan berkembang disemua Kecamatan dan menjadi sajian yang menarik untuk dinikmati oleh wisatawan. Adapun alat-alatnya terdiri dari : Suling (Suling kecil,sedang dan besar) Korno (korno sol-la, mi-fa, si-do) Bambu tengah (mi-fa, so-la) Trambone (so-la, mi-fa) Saksafon Trompet Bas Tambur Musik ini dapat membawakan semua lagu dengan segala irama.



Tari Gunde umunya diadakan pada saat upacara penyembahan dan menolakkan bala yang dikenal dengan menahulending. Sehingga tari Gundeberfungsi sebagai tarian pemujaan. Penarinya terdiri dari sekelompok orang yang berjumlah 13 orang termasuk seorang pemimpin tari (pengataseng) dengan diiringi oleh bunyi irama tabuhan tagonggong dengan menggunakan beberapa jenis irama lagu(lagung) yaitu lagung bawine, lagung balang. Lagung sasahola, lagung kakumbaede.

Tari gunde diiringi oleh Beberapa orang yang menabuh Tagonggong serta lagu sasambo dengan menggunakan kain asli kofo yang dibuat dari serat pisang.

Foto : Yayasan Sampiri



Tari Alabadiri adalah tarian yang diciptakan oleh Raja DALERO seorang Raja Tabukan saudara dari PANDIALANG pada abad ke 18. Pada saat itu PANDIALANG menjadi seorang Jogugu di Sahabe, dan ia mencipakan Tari Ransang Sahabe artinya Tarian dari Sahabe. Pada mulanya para penarinya adalah para pengawalnya sendiri sehinggah tari ini adalah tari pengawal.
Tari ini mempunyai 8 (delapan) gerakan tari yaitu :
Gerakan kulubalang melambangkan kerukunan dan kerja sama rakyat dan pemerintah.
Gerakan tokting melambangkan bahwa segala peraturan dapat ditaati dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Gerakan cincin melambangkan tanda peringatan bahwa para pemimpin harus melaksanakan tugas kewajiban dengan baik.
Gerakan pisau melambangkan rakyat bersumpah bela nusa dan bangsa, serta memberi peringatan pada pemimpin yang tidak jujur.
Gerakan kaliau di telinga melambangkan bahwa segala perintah selalu didengar dan dilaksanakan
Gerakan kaliau di lutut melambangkan bahwa Pemerintah dicintai rakyat.
Gerakan Menari melambangkan kegembiraan masyarakat atas keberhasilan yang dicapai .
Gerakan mengaemba melambangkan sukacita rakyat dengan adanya pemerintah.


Tari Salo adalah Tarian yang menggambarkan kekesatriaan kepahlawanan serta kejujuran, demi keadilan menyerahlah tubuh dan jiwa sampai titik darah yang terakhir setia membela Pemerintah, Bangsa dan Negara. Tarian ini sering ditarikan oleh masyarakat di Desa Salurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar